LIMUN SAPARILA VS
COCA COLA…. ROKOK KRETEK VS ROKOK PUTIH
(Perang Tembakau..
Perang Nikotin… Perang Rokok…???)
Tiba tiba sambil
rokok’an, pak tua itu bilang…. ‘ siapa yang bilang bahwa tembakau adalah zat
adiktif ?..., itu kan asumsi WHO…, kamu
tahu… bahwa 90 persen ahli dari WHO bukan ahli kesehatan..”.
Pak Tua itu terus
berkomentar……… “Upaya untuk mematikan industri rokok kretek sudah berlangsung
sangat lama. Ini perlu diwaspadai oleh kita…, karena kalau tidak nasibnya bisa
seperti minuman lokal limun Saparila yang gulung tikar setelah coca cola masuk
ke negeri ini. Jika industri rokok kretek hancur, maka dapat dipastikan… produk
rokok putih milik asing akan mendominasi pasar”.
“Mari kita lihat
perusahaan tambang milik asing, mereka mendapatkan keuntungan yang sangat besar
puluhan tahun, tapi sumbangannya ke negara tidak sebesar cukai rokok. Padahal
kerusakan lingkungan dan kerusakan lainnya ditanggung oleh masyarakat
setempat”.
“Ini kepentingan
korporasi asing…, mungkin perusahaan perusahaan besar seperti Pfizer, Novartis,
juga Glaxo Smith Kline yang pada tahun 90an membiayai secara penuh anggota WHO
untuk membentuk World Health Organization’s Tobacco Free Initiative”.
“Kamu tahu, ada
fakta mengenai bantuan Bloomberg untuk membiayai program anti rokok di negeri
ini yang disalurkan ke sejumlah LSM, dan ini sudah menjadi rahasia umum bahwa
Bloomberb bagi bagi uang… money politics”.
Pak Tua itu bilang
bahwa “ada aliran dana asing dalam kampante anti rokok di tiga negara, yakni ke
India sebesar 6 juta dollar AS, Indonesia sebanyak 4,2 juta dollar AS, dan
China sebanyak 3 juta dollar AS. Blomberg misalnya mengeluarkan dana CSRnya
sebesar 4.195.442 dollar AS untuk kampanye antirokok di Indonesia”.
“kata siapa merokok
dapat menyebabkan kanker…?, atau meningkatkan resiko kanker ?”..; Penelitian
kadang seringkali bukan sesuatu yang betul betul netral…, tetapi memang sengaja
dibuat untuk memberikan pembenaran pada kesimpulan tertentu”. Rober Wood
Johnsons Foundation mengeluarkan ratusan juta dollar untuk membiayai American
cancer Society (ACS) dan Action on Smoking and Health (ASH) untuk tetap
memperkuat bukti bahaya maut yang ditebar oleh tembakau”.
“dalam konteks ini,
seorang peneliti menjadi tidak lebih dari sekedar the producers of lie, penebar
kebohongan, juga the producers of fround, penebar penipuan. Ketika kebebasan
akademik diinjak oleh kepentingan komersial dan atau kepentingan politics, maka
menjadi hilanglah kebenaran sejati”.
“ini sebenarnya
adalah perang… perang tembakau/perang rokok… yang pada akhirnya industri rokok
kretek milik anak bangsa menjadi tergilas…; Sampoerna dibeli oleh Philip
Morris, Bentoel dibeli oleh British American Tobacco (BAT) dll”.
“Mungkin hal
terburuk, seandainya larangan merokok seperti dalam konvensi Who dilaksanakan….
maka akan terjadi peredaran rokok non-nicotine, save dissolvable cigarette,
yang semakin menguasai…yang memang jauh
jauh hari sudah dipersiapkan oleh phillip morris. Dan yang akan terjadi juga
adalah derasnya peredaran nicoderm dan nicorette yang sudah dipersiapkan sejak
awal oleh perusahaan perusahaan farmasi seperti Johnson and Johnson”.
Jadi kalau kita
kalah…. Maka rokok kretek akan digantikan oleh rokok produk mereka…., seperti
kalahnya LIMUN SAPARILA yang telah digantikan oleh produk mereka yaitu COCA
COLA.
Disarikan dari buku
yang diterbitkan oleh Masyarakat bangga Produk Indonesia.
Wallahu a’lam
(aGUS MULyono,
Malang 4 September 2016)