Senin, 05 September 2016

LIMUN SAPARILA VS COCA COLA…. ROKOK KRETEK VS ROKOK PUTIH

LIMUN SAPARILA VS COCA COLA…. ROKOK KRETEK VS ROKOK PUTIH
(Perang Tembakau.. Perang Nikotin… Perang Rokok…???)

Tiba tiba sambil rokok’an, pak tua itu bilang…. ‘ siapa yang bilang bahwa tembakau adalah zat adiktif  ?..., itu kan asumsi WHO…, kamu tahu… bahwa 90 persen ahli dari WHO bukan ahli kesehatan..”.

Pak Tua itu terus berkomentar……… “Upaya untuk mematikan industri rokok kretek sudah berlangsung sangat lama. Ini perlu diwaspadai oleh kita…, karena kalau tidak nasibnya bisa seperti minuman lokal limun Saparila yang gulung tikar setelah coca cola masuk ke negeri ini. Jika industri rokok kretek hancur, maka dapat dipastikan… produk rokok putih milik asing akan mendominasi pasar”.

“Mari kita lihat perusahaan tambang milik asing, mereka mendapatkan keuntungan yang sangat besar puluhan tahun, tapi sumbangannya ke negara tidak sebesar cukai rokok. Padahal kerusakan lingkungan dan kerusakan lainnya ditanggung oleh masyarakat setempat”.

“Ini kepentingan korporasi asing…, mungkin perusahaan perusahaan besar seperti Pfizer, Novartis, juga Glaxo Smith Kline yang pada tahun 90an membiayai secara penuh anggota WHO untuk membentuk World Health Organization’s Tobacco Free Initiative”.

“Kamu tahu, ada fakta mengenai bantuan Bloomberg untuk membiayai program anti rokok di negeri ini yang disalurkan ke sejumlah LSM, dan ini sudah menjadi rahasia umum bahwa Bloomberb bagi bagi uang… money politics”.

Pak Tua itu bilang bahwa “ada aliran dana asing dalam kampante anti rokok di tiga negara, yakni ke India sebesar 6 juta dollar AS, Indonesia sebanyak 4,2 juta dollar AS, dan China sebanyak 3 juta dollar AS. Blomberg misalnya mengeluarkan dana CSRnya sebesar 4.195.442 dollar AS untuk kampanye antirokok di Indonesia”.

“kata siapa merokok dapat menyebabkan kanker…?, atau meningkatkan resiko kanker ?”..; Penelitian kadang seringkali bukan sesuatu yang betul betul netral…, tetapi memang sengaja dibuat untuk memberikan pembenaran pada kesimpulan tertentu”. Rober Wood Johnsons Foundation mengeluarkan ratusan juta dollar untuk membiayai American cancer Society (ACS) dan Action on Smoking and Health (ASH) untuk tetap memperkuat bukti bahaya maut yang ditebar oleh tembakau”.

“dalam konteks ini, seorang peneliti menjadi tidak lebih dari sekedar the producers of lie, penebar kebohongan, juga the producers of fround, penebar penipuan. Ketika kebebasan akademik diinjak oleh kepentingan komersial dan atau kepentingan politics, maka menjadi hilanglah kebenaran sejati”.

“ini sebenarnya adalah perang… perang tembakau/perang rokok… yang pada akhirnya industri rokok kretek milik anak bangsa menjadi tergilas…; Sampoerna dibeli oleh Philip Morris, Bentoel dibeli oleh British American Tobacco (BAT) dll”.
“Mungkin hal terburuk, seandainya larangan merokok seperti dalam konvensi Who dilaksanakan…. maka akan terjadi peredaran rokok non-nicotine, save dissolvable cigarette, yang semakin menguasai…yang memang  jauh jauh hari sudah dipersiapkan oleh phillip morris. Dan yang akan terjadi juga adalah derasnya peredaran nicoderm dan nicorette yang sudah dipersiapkan sejak awal oleh perusahaan perusahaan farmasi seperti Johnson and Johnson”.

Jadi kalau kita kalah…. Maka rokok kretek akan digantikan oleh rokok produk mereka…., seperti kalahnya LIMUN SAPARILA yang telah digantikan oleh produk mereka yaitu COCA COLA.

Disarikan dari buku yang diterbitkan oleh Masyarakat bangga Produk Indonesia.


Wallahu a’lam

(aGUS MULyono, Malang 4 September 2016)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar