Selasa, 16 Agustus 2016

Rokok

Rokok

Ada hal yang menarik ketika pagi tadi berdiskusi tentang eksistensi rokok bersama salah seorang CEO dari perusahaan rokok di Jawa Timur.

Setelah hampir satu tahun yang lalu telah disahkan regulasi tentang tembakau dan produk turunannya seperti rokok yaitu Peraturan Pemerintah no 109 tahun 2012, maka dampaknya beberapa industri rokok banyak yang gulung tikar. Di Malang saja dari kurang lebih 200 industri rokok…yang masih bisa eksis kurang lebih hanya tinggal 40 industri rokok.

Dan ternyata… ketika industri-industri rokok pribumi pada gulung tikar… maka rame-rame pihak asing masuk untuk mengambil alih. Philip Morris telah membeli sampoerna, Japan Tobacco membeli wismilak, Bentul juga telah dibeli oleh perusahaan asing dan masih banyak lagi yang lain yang lagi negosiasi dengan perusahaan asing.

Padahal industri rokok adalah industri yang betul-betul industri, karena dari hulu dan hilir adalah Indonesia banget…, mulai dari bahan baku, tenaga ahli, karyawan, pabrik dllnya adalah Indonesia banget. Sementara Industri lain biasanya tidak semua hulu sampai hilir berasal dari Indonesia. Contoh sederhana adalah industri tempe… kedelainya adalah impor, contoh lain industri pakaian… kapasnya impor.

Mungkin karena industri rokok hulu sampai hilir adalah Indonesia banget…maka banyak kepentingan korporasi asing yang ingin menguasai untuk memutus hulunya ataupun memutus hilirnya. Sehingga Lagi-lagi agar Indonesia semakin tidak mandiri.

Bukan hanya rokok, tapi banyak contoh yang lain. Sehingga berbagai komoditi asli Indonesia bisa saja mati/hancur,  pemerintah sangat kurang memperhatikan hal tersebut,  kebijakan dan keseriusan pemerintah untuk mengangkat komoditi lokal sepertinya selalu tidak memihak.

Banyak komoditi sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, pertambangan, peternakan, bahkan komoditi hasil dari kearifan lokal (karya nenek moyang kita), seperti rokok kretek, gula aren, minyak kelapa/kletik, tidak berkembang, kapasitas industrinya tetap berskala lokal bahkan cenderung mengecil dan banyak yang hancur. Produk kearifan lokal yang memberi kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional , seperti rokok kretek, selalu diserang dengan isu-isu kesehatan. Dana milyaran rupiah mengalir kebeberapa institusi di Indonesia untuk mengkampanyekan sisi negative tentang rokok. Kalau dulu di bungkus rokok ada tulisan rokok mengganggu kesehatan…, maka beberapa waktu kedepan dibungkus rokok harus ada gambar dan tulisan bahwa rokok membunuhmu.

Industri rokok adalah salah satu contoh…bagaimana kepentingan global, kepentingan koorporasi-korporasi besar ingin menguasai dunia. Dengan membuat regulasi-regulasi dan meletakkan orang-orangnya untuk kepentingan itu. Banyak para pejabat, para anggota dewan baik sadar maupun tidak sadar menjadi alat-alat dari kepentingan itu…agar regulasi dapat diberlakukan di negeri ini demi kepentingan ekonomi mereka.

Dan sekarang yang lebih parah lagi ketika sudah menguasai institusi pendidikan. Sehingga pendidikan hanya diarahkan untuk kepentingan global dan kepentingan pasar…, dan kita masuk perangkap untuk ikut dalam gelombang kapitalisme.

Mari, untuk para pengambil kebijakan public, para pejabat untuk berupaya memperjuangkan kepentingan bangsa dalam perspektif yang lebih komprehensif dan menukik pada akar masalah, yaitu keberdayaan dan kemandirian sebagai bangsa Indonesia.

Wallahu a’lam.

(Agus Mulyono, Malang 11 Februari 2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar