Rokok
Ada hal yang menarik
ketika pagi tadi berdiskusi tentang eksistensi rokok bersama salah seorang CEO
dari perusahaan rokok di Jawa Timur.
Setelah hampir satu
tahun yang lalu telah disahkan regulasi tentang tembakau dan produk turunannya
seperti rokok yaitu Peraturan Pemerintah no 109 tahun 2012, maka dampaknya
beberapa industri rokok banyak yang gulung tikar. Di Malang saja dari kurang
lebih 200 industri rokok…yang masih bisa eksis kurang lebih hanya tinggal 40
industri rokok.
Dan ternyata… ketika
industri-industri rokok pribumi pada gulung tikar… maka rame-rame pihak asing
masuk untuk mengambil alih. Philip Morris telah membeli sampoerna, Japan
Tobacco membeli wismilak, Bentul juga telah dibeli oleh perusahaan asing dan
masih banyak lagi yang lain yang lagi negosiasi dengan perusahaan asing.
Padahal industri
rokok adalah industri yang betul-betul industri, karena dari hulu dan hilir
adalah Indonesia banget…, mulai dari bahan baku, tenaga ahli, karyawan, pabrik
dllnya adalah Indonesia banget. Sementara Industri lain biasanya tidak semua
hulu sampai hilir berasal dari Indonesia. Contoh sederhana adalah industri
tempe… kedelainya adalah impor, contoh lain industri pakaian… kapasnya impor.
Mungkin karena
industri rokok hulu sampai hilir adalah Indonesia banget…maka banyak
kepentingan korporasi asing yang ingin menguasai untuk memutus hulunya ataupun
memutus hilirnya. Sehingga Lagi-lagi agar Indonesia semakin tidak mandiri.
Bukan hanya rokok,
tapi banyak contoh yang lain. Sehingga berbagai komoditi asli Indonesia bisa
saja mati/hancur, pemerintah sangat
kurang memperhatikan hal tersebut,
kebijakan dan keseriusan pemerintah untuk mengangkat komoditi lokal
sepertinya selalu tidak memihak.
Banyak komoditi
sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, pertambangan, peternakan, bahkan
komoditi hasil dari kearifan lokal (karya nenek moyang kita), seperti rokok
kretek, gula aren, minyak kelapa/kletik, tidak berkembang, kapasitas
industrinya tetap berskala lokal bahkan cenderung mengecil dan banyak yang
hancur. Produk kearifan lokal yang memberi kontribusi signifikan terhadap
perekonomian nasional , seperti rokok kretek, selalu diserang dengan isu-isu
kesehatan. Dana milyaran rupiah mengalir kebeberapa institusi di Indonesia
untuk mengkampanyekan sisi negative tentang rokok. Kalau dulu di bungkus rokok
ada tulisan rokok mengganggu kesehatan…, maka beberapa waktu kedepan dibungkus
rokok harus ada gambar dan tulisan bahwa rokok membunuhmu.
Industri rokok
adalah salah satu contoh…bagaimana kepentingan global, kepentingan
koorporasi-korporasi besar ingin menguasai dunia. Dengan membuat
regulasi-regulasi dan meletakkan orang-orangnya untuk kepentingan itu. Banyak
para pejabat, para anggota dewan baik sadar maupun tidak sadar menjadi
alat-alat dari kepentingan itu…agar regulasi dapat diberlakukan di negeri ini
demi kepentingan ekonomi mereka.
Dan sekarang yang
lebih parah lagi ketika sudah menguasai institusi pendidikan. Sehingga
pendidikan hanya diarahkan untuk kepentingan global dan kepentingan pasar…, dan
kita masuk perangkap untuk ikut dalam gelombang kapitalisme.
Mari, untuk para pengambil kebijakan public, para
pejabat untuk berupaya memperjuangkan kepentingan bangsa dalam perspektif yang
lebih komprehensif dan menukik pada akar masalah, yaitu keberdayaan dan kemandirian
sebagai bangsa Indonesia.
Wallahu a’lam.
(Agus Mulyono, Malang 11 Februari 2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar