Jumat, 26 Agustus 2016

TINGWE…… (Ngelinting Dewe)

Saya tidak percaya kalau harga rokok akan naik menjadi limapuluhan ribu per bungkus…, itu pasti kerjaan orang orang yang ngisruh…. sehingga isu itu menjadi bergulir, media ikut ikutan, medsos ramai dan mesyarakat kemudian menjadi percaya bahwa harga rokok akan benar benar naik.

Ketika seorang teman saya hubungi terkait dengan isu tersebut…. seorang teman bilang bahwa itu hanya isu saja yang sengaja dihembuskan…. dan itu kerjaan orang orang yang nantinya akan mengambil keuntungan dari situ.

Rokok Indonesia itu menguasai pasar dunia…, Keberadaan rokok kretek mengancam keberadaan dan eksistensi rokok putih yang merupakan produk negara negara dengan kapital besar. (rokok kretek itu campran tembakau dan ada cengkehnya, sehingga berbunyi kretek, kretek… baik itu berfilter maupun tidak)

Karena keberadaan rokok kretek produk Indonesia mengancam keberadaan produk mereka…. Maka perlu ada siasat agar rokok kretek menjadi lemah atau mungkin menjadi dikuasai….. sehingga lahirlah berbagai kampanye berkaitan dengan masalah kesehatan dan lain lain…

Jika harga rokok Indonesia naik…. maka yang mendapat keuntungan adalah rokok rokok impor… (mereka bisa bersaing dengan harga segitu). Dengan harga rokok seperti sekarang…, rokok rokok impor itu menjadi keok……, oleh karena itu dengan menggunakan orang orang kita sendiri dihembuskan isu harga rokok akan naik… dibuat opini sedemikian rupa dst.
***

Tahun 2012 di jaman pak SBY…. Yang mengesahkan regulasi tentang tembakau dan produk turunannya seperti rokok yaitu Peraturan Pemerintah no 109 tahun 2012, dan apa yang kemudian terjadi ?...; beberapa industri rokok banyak yang gulung tikar. Di Malang saja dari kurang lebih 200 industri rokok…yang masih bisa eksis kurang lebih hanya tinggal 40 industri rokok.

Dan ternyata… ketika industri-industri rokok pribumi pada gulung tikar… maka rame-rame pihak asing masuk untuk mengambil alih. Philip Morris telah membeli sampoerna, Japan Tobacco membeli wismilak, Bentul juga telah dibeli oleh perusahaan asing dan masih banyak lagi yang lain yang lagi negosiasi dengan perusahaan asing.

Padahal industri rokok adalah industri yang betul-betul industri, karena dari hulu dan hilir adalah Indonesia banget…, mulai dari bahan baku, tenaga ahli, karyawan, pabrik dllnya adalah Indonesia banget. Sementara Industri lain biasanya tidak semua hulu sampai hilir berasal dari Indonesia. Contoh sederhana adalah industri tempe… kedelainya adalah impor, contoh lain industri pakaian… kapasnya impor.

Mungkin karena industri rokok hulu sampai hilir adalah Indonesia banget…maka banyak kepentingan korporasi asing yang ingin menguasai untuk memutus hulunya ataupun memutus hilirnya. Sehingga Lagi-lagi agar Indonesia semakin tidak mandiri.

Bukan hanya rokok, tapi banyak contoh yang lain. Sehingga berbagai komoditi asli Indonesia bisa saja mati/hancur,  orang orang kita sendiri kadang tidak sadar dan kurang memperhatikan hal tersebut. 

Banyak komoditi sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, pertambangan, peternakan, bahkan komoditi hasil dari kearifan lokal (karya nenek moyang kita), seperti rokok kretek, gula aren, minyak kelapa/kletik, tidak berkembang, kapasitas industrinya tetap berskala lokal bahkan cenderung mengecil dan banyak yang hancur. Produk kearifan lokal yang memberi kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional , seperti rokok kretek, selalu diserang dengan isu-isu kesehatan. Dana milyaran rupiah mengalir kebeberapa institusi di Indonesia untuk mengkampanyekan sisi negative tentang rokok. Kalau dulu di bungkus rokok ada tulisan rokok mengganggu kesehatan…, maka sekarang dibungkus rokok harus ada gambar dan tulisan bahwa rokok membunuhmu.

Industri rokok adalah salah satu contoh…bagaimana kepentingan global, kepentingan koorporasi-korporasi besar ingin menguasai dunia. Dengan membuat regulasi-regulasi dan meletakkan orang-orangnya untuk kepentingan itu. Banyak para pejabat, para anggota dewan baik sadar maupun tidak sadar menjadi alat-alat dari kepentingan itu…agar regulasi dapat diberlakukan di negeri ini demi kepentingan ekonomi mereka.

Dan sekarang yang lebih parah lagi ketika sudah menguasai institusi pendidikan. Sehingga pendidikan hanya diarahkan untuk kepentingan global dan kepentingan pasar…, dan kita masuk perangkap untuk ikut dalam gelombang kapitalisme.
***

Tapi jika isu isu yang dihembuskan tentang kenaikan harga rokok dan itu benar benar terjadi……….. maka masyarakat akan kembali pada kebiasaan Tingwe (ngelinting dewe yang sebenarnya dikampung sampai sekarang juga tingwe). Lebih alami…. apalagi dengan menggunakan kulit jagung (klobot) terasa lebih nikmat dan menyatu dengan alam. Apalagi menggunakan pipa rokok gM-Pirotek…. maka merokok tingwe menjadi lebih asyik dan menyehatkan.

Wallahu a’lam

(aGUS MULyono, Malang 22 Agustus 2016)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar